Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2015

Tentang Surah Al-Kaafiruun

Tentang Surah Al-Kaafiruun
Saya ingin kembalikan diskusi ke pangkalnya. Ada apa dengan Surah Al-Kaafiruun? Mengapa Surah Al-Kaafiruun sering dijadikan dalil untuk pluralisme agama? Paling tidak, orang kritis harus mempertanyakan dua hal sehubungan masalah ini. Pertama, apakah “lakum diinukum wa liyadiin” berarti “agama selain Islam juga benar”? Kedua, bagaimana konteks sejarah ketika Surah Al-Kaafiruun diturunkan?
Ingat, awalnya adalah pada paham pluralisme yang menyatakan semua agama benar. Lalu dikaitkan dengan Surah Al-Kaafiruun. Pertanyaan pertama relatif mudah dijawab. Karena di ayat satu Surah Al-Kaafiruun ada kalimat “yaa ayyuhal kaafiruun.” Jelaslah bahwa surah ini ditujukan kepada orang-orang kafir. Apa arti kafir? Yaitu ingkar. Ingkar kepada apa? Ya, ingkar kepada Allah, ingkar kepada agama Allah, yaitu Islam. Tau darimana agama yang Allah benarkan hanya Islam? Ya, dari surat Ali Imran [3]:19 yang berbunyi “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.”
Jadi, “lakum diinukum wa liyadiin” itu untuk orang-orang yang mengingkari Allah. Apa agama mereka benar? Parafrase kembali pertanyaannya! Apa kita bisa mengatakan bahwa agamanya orang-orang yang mengingkari Allah itu benar? Jelaslah bahwa “lakum diinukum wa liyadiin” tidak sama dengan mengatakan “agama yang lain juga benar”. Sebaliknya, “lakum diinukum wa liyadiin” diperuntukkan bagi mereka yang agamanya salah karena mengingkari Allah. Tapi biarpun agamanya salah, kita diperintahkan untuk toleran. Tapi toleransi ya jangan kebablasan. Jangan lagi mempertanyakan: Apakah Nasrani dan Yahudi itu kafir? Dari dulu juga mereka disebut kafir. Coba baca Qs. At-Taubah [9]:30-31 yang berbunyi sebagai berikut:
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. At-Taubah [9]:30-31)
Mereka disebut Ahli Kitab karena alasan dakwah; merekalah obyek dakwah paling utama, karena mereka masih mewarisi sebagian isi kitab-kitab terdahulu, maka diharapkan mereka akan lebih cepat merengkuh hidayah.
Kembali ke Surah Al-Kaafiruun, sejarahnya sangat termasyhur, seharusnya setiap Muslim tahu. Kalau ngakunya pake hermeneutika, harus melihat asbabun nuzul dan konteks pada zaman itu. Surah Al-Kaafiruun diturunkan ketika orang-orang musyrik di Mekkah mengajak Nabi s.a.w berkompromi soal agamanya. Mereka mengajak Nabi s.a.w untuk menyembah Allah s.w.t dan berhala-berhala secara bergantian. Jawaban terhadap ajakan yang tidak patut ini adalah Surah Al-Kaafiruun. “Qul yaa ayyuhal kaafiruun. Laa a’budu maa ta’buduun” dan seterusnya.
Jadi, konteks sesungguhnya dari Surah Al-Kaafiruun bukan toleransi, apalagi pluralisme agama. Konteksnya adalah penolakan tegas untuk mengkompromikan Islam dengan selainnya. Kalau ayat terakhir, ya memang tentang toleransi. Kalau yang dibaca hanya “lakum diinukum wa liyadiin”, maknanya bisa macam-macam. Ya itulah kerjaan liberalis yang menafsirkan ayat sesuka hati mereka.
Sekarang kita teliti, seperti apa sih kaum musyrikin yang ditolak mentah-mentah agamanya oleh Nabi s.a.w ini? Kaum musyrikin Mekkah sesungguhnya adalah pewaris syari’at Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Isma’il a.s. Di kota mereka ada Ka’bah dan mereka setia memuliakannya. Mereka juga berhaji dan berthawaf mengelilingi Ka’bah. Kalau ditanya siapa Rabb-nya, mereka akan menjawab “Allah!” seperti yang tercantum dalam Qs. Yunus [10]:31. Jadi, jangan kira kaum musyrikin ini secara zhahir berbeda 180 derajat dengan kaum Muslimin pada masa itu. Sebaliknya, mereka justru sangat mirip karena mewarisi ajaran tauhid. Sayangnya, banyak noda-noda kemusyrikannya juga. Nah, terhadap kaum musyrikin yang juga mengaku menyembah Allah inilah Surah Al-Kaafiruun diturunkan! Bayangkan, sama-sama mengakui dan menyembah Allah, tapi ‘dihadiahi’ sebutan Al-Kaafiruun karena menyembah berhala. Sebenarnya nggak aneh sih, karena Iblis juga mengakui Allah tapi toh dia disebut kafir juga seperti yang tercantum dalam Qs. Al-Baqarah[2]:34 yang bunyinya:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah36 kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Baqarah[2]:34)
Nah, jika yang mengakui Allah saja bisa disebut kafir lantaran menyekutukan-Nya, apalagi yang tidak mengakui Allah? Orang-orang musyrik menyembah berhala dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah seperti yang tertera dalam Qs. Az-Zumar [39]:3, tapi mereka disebut kafir. Bagaimana halnya orang-orang yang sejak awal tidak mengakui Allah dan tidak menyembah Allah? Ya, jelas kafirnya! Lalu, jika orang-orang yang berbuat kemusyrikan ini agamanya salah, bagaimana dengan yang sama sekali tidak menyembah Allah?
Disinilah pluralisme gagal total. Mengakui kebenaran semua agama tidak ada landasannya dalam Islam. Surah Al-Kaafiruun yang cuma beberapa ayat itu telah menolak klaim pluralisme secara efektif. Inilah mukjizat Al-Qur’an. Makanya saya heran, kok kalau membahas pluralisme agama yang diangkat malah Surah Al-Kaafiruun. Padahal justru Surah Al-Kaafiruun itulah Surah Anti Pluralisme yang sesungguhnya! Nanti ada saja yang berkilah, “Siapa bilang pluralisme menganggap semua agama benar?”
 

DIRANGKUM DIBERBAGAI SUMBER...


Kamis, 05 Maret 2015

Surah an nur pelindung keluarga

Surah an nur pelindung keluarga
Surah an nur memang terkenal sebagai doa pelindung ,namun keutamaannya sebenarnya sangatlah luas baik itu sebagai pengasihan ,pembuka rejeki maupun penyembuh penyakit hati.
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (sesuatu), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nur/24: 35)”
Di dalam kitab Tasyhil dijelaskan : Bahwa makna sifat Nur Allah sulit digambarkan oleh pikiran manusia, maka dibuatlah perumpamaan seperti sifatnya misykat yang didalamnya ada pelita yang terang benderang karena sinarnya terhimpun disitu. Misykat itu ibarat hati orang mukmin, sedangkan hidayah itu adalah Nur Allah yang menuntun hati orang mukmin menuju jalan yang haq.
Dengan Nur itulah Allah akan membimbing menjadi ‘khusyu’, bertakwa, bergetar hatinya dikala disebut nama Allah, dan menenangkan hati, serta melapangkannya. Nur Allah itu bukan berwarna kuning, biru, atau yang putih berkilauan, sebab itu masih berupa apa yang bisa kita bayangkan. Sedangkan Nur Allah bukan berupa huruf, bukan suara, bukan wujud materi.
Seperti disebutkan didalam kitab Masyariq, bahwa Nur, ilham, wahyu, ialah sesuatu yang diberitahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat. Dikehendaki dengan cepat ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan kedalam jiwa sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul pikiran dan muqaddimat-muqaddimatnya.
Itulah yang dimaksudkan Allah memberikan tuntunan dengan Nur-Nya. Nur di sini berarti ilham atau wahyu , intuisi, naluri. ( Almishbahu fii zujaajah), pelita itu terbuat dari kaca yang bening, seakan-akan bintang-bintang seperti mutiara, yang minyaknya berasal dari pohon zaitun yang di berkati. Dan mengandungi manfaat yang sangat banyak.
Laasyarqiyya wa la gharbiyyah ~ tidak tumbuh ditimur dan tidak juga di barat. Ayat ini menggambarkan bahwa Nur itu tidak bisa digambarkan sehingga tidak bisa dikatakan berada dimana dan bagaimana. Tidak barat juga tidak timur berarti tidak ada batas ruang waktu, tidak ada tempat..
Diibaratkan berada di ruang yang tidak ada apa-apa, misalnya berada di padang pasir yang luas, tidak ada gunung, tidak ada pohon, tidak ada goa, atau seperti kalau kita berada diruang angkasa, kita berada di luar pengaruh siang dan malam, tidak dibatasi oleh bumi dan planet lainnya maka kita akan berada di wilayah yang tidak ada barat, timur, atas, bawah, utara, selatan, tidak ada kemarin tidak ada akan datang , tidak ada hari isnin, selasa , bulan, januari, februari dll, yang ada kekinian atau keabadian .
Inilah penggambaran bahwa alam hakikat itu tidak di bisa dibatasi oleh ruang dan waktu serta batasan pikiran sempit manusia. Kita harus memasukinya bukan berada pada batas ruang dan waktu ~ karena kita akan menjadi kecil dan sempit.
Sebab pikiran dan perasaan tidak akan mampu menggambarkan (memberikan persepsi) atas keadaan hakikat kecuali kita mampu "memfanakan" diri dan alam semesta maka wajah Dzat yang ada . Karena rasa dan pikiran bukanlah sebuah ukuran untuk memberikan perbandingan yang amat luas dan tak terhingga, kasih sayang Allah tidak bisa di uraikan oleh keutuhan rasa manusia.
Selama ini kita hanya mengira atau menyangka (dzhan) bahwa kasih sayang dan kehebatan Allah itu bisa kita rasakan. Itu hanyalah anggapan bukan keadaan yang sebenarnya. Karena rasa manusia itu terlalu kecil untuk bisa menggambarkan kenyataan kasihsayang Allah.
Maka benarlah kita ini ternyata hanya bisa mengira dengan dzhan kita …inna dzhanni abdi …Aku menurut persangkaan hamba-hamba-Ku …..
... yukadu zaituha yudhi-u walaulam tamsashu naarun ~ yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (kalimat ini merupakan mubalaghah, didalam mensifati minyak yang sangat bersih dan bening apalagi kalau disentuh api)
Nurun ‘ala Nurin ~ Allah adalah Cahaya diatas cahaya .
Sesungguhnya telah terhimpun cahaya dan penutup lampu yang indah, minyak yang bersih maka sempurnalah cahaya yang diperumpamakan dengannya. Maka Allah-lah yang berada diatas segala cahaya, karena Dialah yang menggerakkan cahaya (ilham) kepada siapa saja yang dikehendaki .
Kesimpulan dari tafsir diatas dengan mempertimbangkan beberapa pendapat ulama masyhur seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Athoillah, Ibnu Qayyim dan kitab-kitab yang terkenal keshahihannya adalah bahwa kata "NUR" merupakan kata majazi yang bisa digunakan untuk penyebutan apa saja yang memiliki kelebihan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Surah An Nur adalah surah ke 24 dalam Al Qur’an. Surah ini berisi 64 ayat, dan merupakan surah Madaniyah, karena surah ini turun setelah Rasulullah hijrah di Madinah, sehingga kesepakatan ulama menyebut surah ini dengan nama surah Madaniyah.
Letak surah An Nur dalam urutan mushhaf berada di antara dua surah Makkiyah, yaitu surah Al Mu’minun dan surah Al Furqan. Sedangkan dari sisi turunnya, surah An Nur ini seperti yang dituturkan oleh Abdullah Ibnu Abbas, turun setelah surah An Nashr dan sebelum surah Al Hajj. Dalam riwayat lain menurut Ali bin Abi Thalhah, surah An Nur turun setelah surah Al Hajj dan sebelum surah Al Ahzab .
Kata nur berasal dari akar kata nara-nuran, yang berarti menerangi, semakna dengan kata anara, nawwara, istanaara.
Dalam bentuk kata benda yang memiliki kedekatan makna dengan kata nur adalah kata nar (api), yaitu unsur alamiah yang aktif mengeluarkan cahaya, panas, dan membakar, sering disebut juga dengan al lahab, ketika menjilat-jilat.
Sedang kata nur berarti cahaya, yaitu penerang yang menjelaskan sesuatu sehingga terlihat hakekat yang sesungguhnya.
Kandungan surah an nur
Surat ini sebagian besar memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan dengan persoalan rumah tangga dan kemasyarakatan dengan berlandaskan Iman yang benar.
Kandungan yang terdapat dalam surah An Nur ialah masalah keimanan, syari’ah (hukum), dan kisah.
A. AL IMAN (KEIMANAN)
Dasar-dasar keimanan yang ada dalam surah An Nur ini meliputi :
1. Iman kepada Allah
Iman kepada Allah dalam surah An Nur ini disampaikan dengan menjelaskan Allah sebagai :
a. Dzat yang telah menurunkan Al Qur’an, seperti yang dijelaskan pada ayat 1, 34, dan 46.
b. Pemberi cahaya langit dan bumi, terdapat pada ayat 35.
c. Penguasa langit dan bumi terdapat dalam ayat 42, 43,44, 45, dan 64.
2. Iman kepada hari akhir/hari kiamat, ditegaskan dalam ayat 23-25.
3. Iman kepada Rasul, dalam surah An Nur ini disampaikan dengan menjelaskan Rasul sebagai :
a. Penerima wahyu Allah, terdapat pada ayat 1, dan 34.
b. Adab berkomunikasi dengan Rasulullah, terdapat pada ayat 62, 63.
c. Sikap kaum munafik terhadap Rasulullah, terdapat pada ayat 47 dan 50.
4. Keadaan orang-orang kafir di hari kiamat, dijelaskan pada ayat 39, 40.
5. Mentaati Allah dan rasul-Nya, ditegaskan pada ayat 51 sampai 54.
6. Landasan negeri beriman, dijelaskan pada ayat 55 sampai 57.
7. Proses penciptaan dan kehidupan hewan, dijelaskan pada ayat 45.
B. SYARI’AH (HUKUM-HUKUM)
1. Hukum zina, terdapat pada ayat 2-3.
2. Hukum qadzf (menuduh orang lain berbuat zina), terdapat pada ayat 4-5.
3. Hukum li’an (suami yang menuduh istrinya berbuat zina), terdapat pada ayat 6-10.
4. Izin sebelum memasuki rumah, terdapat pada ayat 27-29, 57-60.
5. Hukum Pandangan dan Hijab, terdapat pada ayat 30-31.
6. Hukum pernikahan terdapat pada ayat 32-34.
7. Makan di rumah orang tanpa izin, terdapat pada ayat 61.
C. AL QISHSHAH (KISAH)
Berita palsu tentang Aisyah, terdapat pada ayat 11 sampai 26.
Pengertian Madaniyah dengan mengatakan sebagai ayat yang turun sesudah hijrah Nabi ke Madinah adalah pengertian yang populer di kalangan ulama ulumul-Qur’an, meskipun ayat itu turunnya di Makkah. Seperti ayat 58 surah An Nisa yang turun pada saat Fathu Makkah, atau ayat 3 surah Al Maidah. Lawannya adalah Makkiyah, yaitu ayat yang turun sebelum Nabi hijrah.
Pertimbangan lain adalah tempat turunnya ayat itu. Makkiyah adalah yang turun di Makkah dansekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah, sedangkan Madaniyyah adalah yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud dan Quba’. Pembagian ini menimbulkan adanya beberapa ayat yang tidak dapat masuk dalam dua kelompok itu. Seperti ayat yang turun di Tabuk, atau Baitul Maqdis. Dan pembatasan ini menuntut terjadinya ayat yang turun Makkah sesudah hijrah Nabi disebut pula Makkiyah.
Surah an nur pelindung keluarga
Surah An Nur merupakan salah satu surah dalam Al Qur’an yang menekankan pada perlunya pembentukan masyarakat saleh secara operasinal yang dimulai dengan pembentukan pribadi, dan keluarga yang saleh.
Dari itulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan pesan khusus pengajaran surah ini kepada kaum wanita yang akan menjadi pengelola rumah tangga.
Said ibn Mansur, Ibnu Al Mundzir, dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Mujahid berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: Ajarkan kepada para laki-laki kalian surah Al Ma’idah. Dan ajarkan kepada para wanita kalian surah An Nur.
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang membaca surat An-Nur, ia diberi pahala sepuluh kebaikan, dengan jumlah setiap mukmin dan mukminah yang ada di zaman yang lalu dan mendatang.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 3: 567)
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Janganlah kamu mengajarkan surat Yusuf kepada isterimu (juga anak perempuanmu), dan janganlah kamu membacakannya pada mereka, karena di dalamnya terdapat fitnah. Ajarkan pada mereka surat An-Nur, karena di dalamnya terdapat nasehat-nasehat.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 3: 568)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Jagalah hartamu dan kemaluanmu dengan membaca surat An-Nur; jagalah istrimu dengannya. Barangsiapa yang rajin membaca surat An-Nur setiap hari atau setiap malam, maka keluarganya akan terjaga dari perzinaan selamanya sehingga ia meninggal. Jika meninggal, ia akan diikuti ke kuburnya oleh seribu malaikat, semuanya mendoakan dan memohonkan ampunan untuknya sehingga ia dimasukkan ke kuburnya.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 3: 567)
Perumpamaan cahaya Allah dalam hati orang-orang mukmin bagaikan sebuah misykat ( kamisykatin fiha misbahun / cerukan pada dinding yang didalamnya terdapat pelita, yaitu cahaya yang terhimpun di dalam misykat yang mengakibatkan cahaya itu bersinar amat terang sekali .
Seperti matahari merupakan Nur bagi langit, si fulan adalah Nur bagi negerinya karena ia adalah anak yang telah membawa nama harum bangsanya serta pengabdiannya yang tidak ternilai.
Rasulullah adalah Nur bagi ummat yang keadaannya sangat jahiliyyah, sehingga Syekh Al barzanji menulis syair untuk beliau " anta syamsu anta badru anta nurun fauqa nurin, engkau adalah matahari, engkau adalah bulan dan engkau adalah cahaya yang terang diatas segala cahaya.
Alqur’an juga di sebut An Nur, karena merupakan firman Allah yang memberikan jalan kebenaran dan tuntunan hidup bagi manusia.
Ilham merupakan Nur dari Allah, disebut Nur karena merupakan pencerah hati dari yang gelap dan buta menjadi faham dengan ilmu pengetahuan.
Gambaran ayat diatas adalah menerangkan keadaan hati orang mukmin yang terang setelah mendapatkan pencerahan dari Allah berupa ilham atau hidayah. Cahaya yang dimaksudkan bukanlah Dzat Allah akan tetapi ilham/ hidayah. Dan Allah menggelari dirinya sebagai Nur diatas Nur (Nurun ‘ala Nurin), yaitu Cahaya Yang menggerakkan Cahaya, yang menciptakan cahaya (bintang-bintang), menurunkan cahaya-cahaya yang menerangi ummat (rasul-rasul), memancarkan cahaya berupa ilham atau intuisi yang menerangi kebodohan (Al ilmu nurun / ilmu itu cahaya), cahaya-cahaya tersebut bukanlah Dzat Tuhan, dan barang siapa menyembah kepada cahaya-cahaya tersebut berarti telah terjebak kepada cahaya yang diciptakan Tuhan.
Kita disuruh mencari sumber cahaya yaitu Nurun ‘Ala Nurin, Cahaya diatas Cahaya. Wallahu a’lam
Sekian dulu dari saya,semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Selasa, 03 Maret 2015

data; 2014 Umat Islam Terus Meningkat, Rusia Diprediksi Akan Jadi Negara Muslim

data; 2014
Umat Islam Terus Meningkat, Rusia Diprediksi Akan Jadi Negara Muslim
Islam kini telah menjadi agama kedua yang paling banyak dianut di Rusia setelah Kristen Ortodoks. Jumlah umat Islam terus bertambah dari tahun ke tahun, saat ini sekitar 21-28 juta penduduk atau 15-20 persen dari sekitar 142 juta penduduk.
Seperti dilansir Republika, Kamis (23/5), saat ini terdapat lebih dari 5.000 organisasi Muslim yang terdaftar di Rusia. Secara resmi jumlah masjid di Rusia mencapai 4.750 masjid. Namun jumlah sebenarnya jauh lebih besar dan terus bertambah. Di Dagestan saja terdapat antara 1.600 – 3.000 masjid. Dalam sepuluh tahun terakhir jumlah masjid di Tatarstan telah melebihi 1.000.
Di ibukota Rusia dengan jumlah pemeluk Islam yang melebihi satu juta orang terdapat 20 komunitas Muslim dan lima masjid. Menurut pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7.000 masjid di Rusia.
Paul Goble, seorang spesialis yang secara khusus melakukan kajian terhadap minoritas etnis di Federasi Rusia, memperkirakan Rusia akan menjadi sebuah negara mayoritas Muslim dalam beberapa dekade mendatang.
Tesis Goble didasarkan pada sejumlah data dan fakta sosiologis yang tengah berkembang di Rusia. Pertama, laju pertumbuhan populasi Muslim diperkirakan mencapai antara 40 dan 50 persen sejak tahun 1989. Jumlah masjid juga berkembang sangat cepat dibandingkan 15 tahun sebelumnya yang hanya terdapat 300 masjid di seluruh Rusia.
Menurut data statistik, pada akhir 2015, jumlah masjid di Rusia akan meningkat drastis menjadi 25.000 masjid.
Kedua, penurunan jumlah populasi negeri Beruang Merah ini. Ahli demografi memprediksi bahwa populasi Rusia akan turun secara drastis dari 143 juta jiwa menjadi 100 juta jiwa pada tahun 2050.
Melihat kecenderungan populasi penduduk Rusia yang cenderung terus menurun itu, para politisi dan pemerintah Rusia kebingungan. Untuk menghambat laju penurunan populasi itu, Presiden Dmitry Medvedev telah menyerukan kepada perempuan Rusia untuk memiliki anak lagi. Sementara Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin menawarkan insentif kepada wanita yang akan memiliki anak lagi.
Sebaliknya, hampir semua pasangan muslim sedikitnya memiliki tiga anak. Sebagian besar keluarga muslim mempunyai anak antara 3 hingga 5 orang anak.
Ketiga, meningkatnya jumlah mualaf. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar LSM Islam aktif bekerja di dalam negeri Rusia. Mereka memainkan peran penting, terutama bagi penduduk Rusia yang putus asa, dan sebagian besar mereka memilih jalan hidup yang baru dengan masuk Islam.
Mereka umumnya meninggalkan agama sebelumnya yang mereka anut. Terutama kelompok atheis, secara bertahap semakin cenderung ke arah Islam, karena dakwah luas dan kegiatan organisasi-organisasi Islam

HILANGNYA HAFALAN 30 JUS

HILANGNYA HAFALAN 30 JUS
Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi'in (270 H) yang HAFAL AL QURAN. Namanya adalah sebaik-baik nama, 'Abdah bin 'Abdurrahiim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID nan NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya...???
Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA. Ayat apakah itu?? Apakah penyebabnya..?? Inilah kisahnya :
Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.
Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI, tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata 'Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.
Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:
“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.”
Syahwat telah memenuhi relung hati 'Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Quran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.
Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan Allah dan menjadi hamba salib?
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, "Dimana Al Quran mu yang dulu???"
Ia menjawab, "Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
"Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim."
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).
(QS. Al Hijr: 2-3)
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yg terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati. Mati dalam keadaan MURTAD.
Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk diakhir hayat.
Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…
"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita." (muttafaq ‘alaih).
**Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir dari buku "Di bawah Kilatan Pedang" (101 Kisah Heroik Mujahidin)
Credit: Budi Hartono
--RiriSaputra

~ INGATLAH KE EMPAT ORANG INI, MAKA ANDA AKAN MENDAPAT PELAJARAN BERHARGA. (Abu Lahab, Abu Jahal, Umar Bin Khattab, dan Khalid bin Walid)

~ INGATLAH KE EMPAT ORANG INI, MAKA ANDA AKAN MENDAPAT PELAJARAN BERHARGA.
(Abu Lahab, Abu Jahal, Umar Bin Khattab, dan Khalid bin Walid)
Ingatlah empat nama orang ini. Keempat orang ini begitu tersohor dan masyhur, dua orang lainnya dikenal sebagai pembenci Islam sejati dan kedua orang lainnya dikenal sebagai pembela Islam sejati. Keempat orang ini akan memberikan inspirasi kepada kita semua tentang kebaikan dan keburukan.
Inilah kebenaran Islam, kebenaran Al Qur'anul Karim dan wahyu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
1. ABU LAHAB
Nama aslinya adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, ia adalah salah satu paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika Nabi Muhammad lahir, ia adalah seorang paman yang ikut berbahagia sekali dengan kelahiran Nabi, tapi pandangannya berubah setelah Rasulullah mulai mensyiarkan Islam pada penduduk Mekkah. Dan Abu Lahab jugalah orang yang pertama menghina dan menghardik Nabi ketika pertama kali menyerukan Islam secara terang-terangan di kaki bukit.
Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak orang-orang Quraish kepada keimanan, lalu Abu Lahab berkata: "Seandainya apa yang dikatakan keponakanku itu benar, maka aku akan melindungi diriku dari pedihnya azab pada hari kiamat nanti dengan hartaku dan anak-anakku."
Maka turunlah Surah Al-Masad (Al-Lahab) yang dikhususkan untuk menghina kembali kata-kata cacian Abu Lahab.
Di surah inilah kita dapat menjumpai kebenaran firman Allah yang sebenar-benarnya. Simaklah baik-baik apa yang disampaikan Allah dalam Surah Al-Masad ayat 1-5 :
1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.
5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.
Surah ini menegaskan bahwa seorang Abu Lahab tidak akan pernah diberikan hidayah kebenaran oleh Allah karena memang di Nerakalah tempat terbaiknya.
Ketika Surah ini turun pada waktu itu kaum muslim pengikut Rasulullah sudah begitu banyak, dan seandainya Abu Lahab yang begitu membenci Islam dan Rasulullah ingin menghancurkan Islam waktu itu sangat mudah; Ia bisa berpura-pura masuk Islam, maka dengan begitu ia telah mematahkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Masad.
Tapi inilah firman Allah yang sebenarnya, bahkan bila Allah telah berkehendak maka tidak akan ada yang bisa merubahnya, bahkan seorang Abu Lahab pun di buat bodoh dengan turunnya Surah Al-Masad.
Saat surat Al-Masad turun, Ummu Jamil (Istri Abu Lahab) marah-marah karena merasa terhina. Ia mendatangi Abu Bakar dan menanyakan di manakah temannya Abu Bakar (Rasulullah Muhammad). Ummu jamil marah-marah di depan Abu Bakar sambil membawa batu dan mengancam akan melakukan berbagai hal buruk pada Nabi.
Ummu jamil menanyakan di manakah Muhammad, padahal saat itu Nabi sedang duduk tepat di samping Abu Bakar. Ummu jamil tidak dapat melihat Nabi karena penglihatannya ditutup oleh Allah sehingga ia hanya melihat Abu Bakar. Padahal Nabi sedang duduk di samping Abu Bakar. Abu bakar karena herannya dengan pertanyaan itu, maka Abu bakar bertanya apakah Ummu jamil hanya dapat melihat Abu Bakar dan tidak melihat orang lain di sampingnya? Maka Ummu jamil merasa di olok-olok oleh Abu bakar seraya menjawab "Apakah engkau bermaksud menghinaku? Aku tidak melihat siapa-siapa selain kau!"
Abu lahab meninggal karena penyakit. Ia tidak ikut memerangi Nabi saat perang Badar karena sakitnya itu. Sepulangnya orang-orang kafir dari perang Badar dengan membawa kekalahan, sakitnya bertambah parah. Dan ia akhirnya meninggal dengan keadaan sakit yang mengerikan. Diriwayatkan bahwa orang-orang kafir, bahkan teman-teman dan keluarganya enggan mengurus jenazahnya karena keadaan sakitnya yang menjijikkan dan timbul bau busuk dari penyakitnya. Inilah akhir hidup seorang musuh Allah.
Selama tiga hari sejak kematiannya, jasad Abu Lahab dibiarkan tergeletak tanpa ada yang bersedia menguburkan. Para warga tidak berani mendekati jasadnya. Akhirnya karena bau busuk yang kian menjadi, maka digali juga sebuah lubang kubur bagi Abu Lahab. Bangkai Abu Lahab didorong-dorong dengan sebilah kayu sampai masuk lubang.
Tidak hanya itu, prosesi penguburan pun berlangsung secara mengenaskan. Dari jauh warga melempari kuburan Abu Lahab dengan batu hingga mereka yakin betul jasadnya telah tertutup rapat. Ya sebuah tragedi kematian yang lebih hina dari kematian seekor ayam sekalipun.
2. ABU JAHAL
Nama aslinya adalah Amr bin Hisham. Ia dan Abu Lahab adalah duo gembong Kuffar Quraisy yang begitu memusuhi Islam dan Rasulullah.
Setiap kaum dhuafa di Mekkah yang ia ketahui masuk Islam maka tidak akan lolos dari penyiksaannya, termasuk Sayyidatina Sumaiyyah binti Khayyat dan suaminya Yasir, yang syahid ditangan Abu Jahal.
Rivalitas Abu Jahal dan Rasulullah sebenarnya sudah jauh hari semasa remaja, sampai saat meminang Khadijah binti Khuwailid pun Abu Jahal harus kalah kesekian kalinya dari Rasulullah.
Ia tewas mengenaskan dalam perang Badar. Dalam kondisi sekarat, Abu Jahal pun menunggu detik-detik kematiannya yang sangat menyakitkan. Ia terkapar dan merasakan seburuk-buruk kesakitan.
Tatkala peperangan telah reda, kaum musyrikin lari dengan kekalahan. Sementara kaum muslimin bergembira atas kemenangan tersebut.
Rasulullah shallallahu bersabda,
"Siapa yang mau memperlihatkan kepada kami apa yang diperbuat Abu Jahal?"
Mendapatkan pertanyaan itu, Ibnu Mas'ud berdiri dan bergegas pergi lalu mendapati Abu Jahal dalam kondisi lemah setelah dipukuli oleh dua putra Afraa Mu'awwidz dan Mu'adz.
Ibnu Mas'ud pun kemudian menarik jenggot Abu Jahal seraya berkata, "Apakah engkau Abu Jahal?"
"Giliran siapa ini." kata Abu Jahal dengan sisa-sisa tenaganya.
"Allah dan Rasul-Nya, bukankah Allah telah menghinakanmu wahai musuh Allah?", jawab Ibnu Mas'ud.
"Apakah ada yang lebih hebat dari lelaki yang dibunuh olehkaumnya sendiri?" jawab Abu Jahal dengan nada yang masih saja sombong.
Sesaat kemudian Ibnu Mas'ud pun membunuhnya kemudian mendatangi Raulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata,
“Aku telah membunuhnya, aku telah membunuh Abu Jahal."
Kemudian Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Demi Allah yang Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia."
Beliau pun mengung-ulang ucapannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda,
"Allahu Akbar, segala puji bagi Allah, Maha Benar Janji-Nya, menolong hamba-Nya dan memporak-porandakan pasukan, pergi dan perlihatkanlah padaku."
Para sahabat kemudian bergegas pergi lalu memperlihatkan jasad Abu Jahal kepada Rasulullah. Kemudian Nabi Muhammad bersabda, "Inilah Fir’aunnya umat ini."
3. SAYYIDINA UMAR BIN KHATTAB RADHIALLAHU 'ANHUMA
Ialah Al-Faruq, pemisah dari yang haq dan yang batil. Umar adalah sebaik-baik pemimpin Islam setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakar As-Sidiq. Beliau juga salah seorang sahabat utama Nabi yang telah dijaminkan syurga.
Ia adalah seorang yang cerdas, tanggap, fasih dalam berbicara, perkasa, dan sangat tangguh. Sebelum memeluk Islam, ia adalah seorang yang sangat fasih membantah ajaran Islam. Bahkan ia tidak segan menyiksa keluarganya yang berani mengikuti Nabi Muhammad.
Hasratnya membunuh Nabi semakin besar setelah melihat satu persatu keluarga dari Baninya mulai memeluk Islam.
Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma menceritakan :
Umar bin Khaththab mempunyai adik perempuan yang bernama Fathimah. Pada waktu itu Fathimah telah bersuami dengan seorang laki-laki yang bernama Sa’id bin Zaid, dan sejak mereka mendengar dakwah Nabi, mereka berdua segera mengikutnya dengan setia dan menjadi pemeluk Islam yang sungguh-sungguh. Tetapi pada waktu itu Umar belum mengetahui bahwa adiknya dan iparnya telah mengikut seruan Nabi.
Dan pada waktu Laila dan suaminya Amir bin Rabi'ah akan berangkat berhijrah ke negeri Habsyi, ketika Laila akan menaiki untanya, mendadak hal itu diketahui oleh Umar. Laila lalu ditanya : "Hai Ummu Abdillah (julukan bagi Laila). Engkau akan pergi kemana?"
Laila menjawab : "Engkau sudah menyakiti aku dan kawan-kawanku yang mengikut seruan Muhammad. Maka sekarang aku akan pergi ke bumi Tuhan, di mana aku dapat berbakti kepada Tuhan, di sanalah aku akan bertempat tinggal, agar supaya aku tidak kamu sakiti dengan kawan-kawanmu."
Umar menjawab : "Ya, mudah-mudahan Tuhan beserta kamu". Lantas Umar seketika itu pergi.
Setelah Laila bertemu dengan suaminya, ia lalu menceritakan kepadanya, bahwa ia telah ditanya oleh Umar, dan Umar lalu mendoakan keselamatannya. Suaminya lalu berkata : "Apakah engkau mengharapkan Islamnya Umar bin Khaththab? Janganlah engkau mengharapkan demikian! Umar tidak akan mengikut seruan Muhammad, kecuali jika himarnya Khattab sudah mengikut Muhammad lebih dahulu."
Adapun sebabnya shahabat Amir sampai berani berkata seperti itu, karena ia selalu ingat akan perbuatan-perbuatan Umar bin Khaththab yang sangat kejam, ganas dan buas terhadap orang-orang yang telah mengikut seruan Nabi, terutama ia ingat perbuatannya ketika ia menyiksa salah seorang budak beliannya yang sudah memeluk Islam sehingga tewas.
Pada waktu itu shahabat Amir tidaklah mengetahui bahwa Nabi telah seringkali berdoa kepada Allah untuk keislamannya ‘Umar.
Pada suatu hari pemuka-pemuka kaum Musyrikin Quraisy memutuskan bahwa Umar bin Khaththab diberi tugas untuk membunuh Rasulullah. Maka dari itu Umar mencari Rasulullah di mana beliau berada dan jika bertemu beliau akan dibunuhnya dengan kejam dan terang-terangan.
Pada waktu itu Umar berjalan seorang diri dengan pedang terhunus dan kebetulan diwaktu panas terik.
Ketika Umar sampai di suatu jalan di kota Makkah, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang shahabat karibnya, bernama Sa'ad bin Abi Waqqash. Maka dia bertanya kepada Umar : "Engkau akan pergi kemana hai Ibnul-Khaththab? Mengapa engkau membawa pedang terhunus seperti itu?"
Umar menjawab : "Aku akan pergi mencari Muhammad, orang celaka itu, karena ia sudah berani mendirikan agama baru, sehingga memutuskan persaudaraan kita, memecah belah persatuan bangsa kita, membodoh-bodohkan orang-orang pandai kita, mencaci maki agama nenek moyang kita, menghina tuhan-tuhan kita, merendahkan kemuliaan kita dan sebagainya. Maka dari itu jika kudapati dia, akan kubunuh, akan kuhabisi nyawanya."
Sa'ad menjawab : "Wahai Umar! Engkau ini lebih kecil dan lebih hina, apakah engkau akan membunuh Muhammad? Apakah engkau mengira, kalau engkau telah membunuh Muhammad, lalu anak keturunan Abdul-Muththalib akan membiarkan engkau hidup lebih lama di muka bumi ini? Sudah tentu mereka tidak akan membiarkan engkau hidup lebih lama lagi."
Umar menjawab : “Agaknya engkau sekarang berani kepadaku, sekarag aku mengerti, bahwa engkau sudah berganti agama. Engkau sudah mengikut agama Muhammad! Jika begitu, sekarang engkau akan kubunuh lebih dulu, karena engkau sudah berlainan agama denganku."
Setelah Umar mendengar syahadat Sa'ad itu, segera ia mengacungkan pedangnya kepada Sa'ad. Sa'ad pun segera menghunus pedangnya dan mengacungkannya kepada Umar. Kedua-duanya tampak sama beraninya sehingga kedua-duanya hampir mengadu kekuatan pedang yang sama tajamnya, lalu Umar diam sebentar. Pada waktu itu Sa'ad berkata kepadanya : "Hai Umar, mengapa engkau tidak berbuat demikian kepada adikmu perempuan dan iparmu?"
Segera muka Umar menjadi merah padam, seraya berkata : "Mengapa begitu? Apakah adikku dan iparku sudah bertukar agama dan menjadi pengikut Muhammad?"
Sa'ad menjawab : "Mengapa tidak? Mereka semua sudah lama menjadi pemeluk agama Muhammad dengan patuh dan ta'at."
Umar berkata : "Kalau begitu, lebih baik sekarang ini juga aku datangi rumahnya, dan nanti kalau bertemu, akan kubunuh kedua-duanya! Apa gunanya aku bersaudara dengan orang-orang yang menjadi pengikut agama Muhammad?"
Oleh sebab itu Umar dan Sa'ad lalu berpisah, dan Umar terus pergi menuju ke rumah adiknya perempuan, Fathimah. Dan ketika itu justru shahabat Sa'id bin Zaid dan isterinya (Fathimah) sedang berada di rumah, dan sedang belajar menbaca ayat-ayat Al-Qur’an pada shahabat Khabbab bin Al-Aratt.
Setelah Umar sampai di rumah Sa’id bin Zaid dan ternyata bahwa pintunya terkunci, maka diketuknya pintu itu dengan keras sambil memegang pedangnya yang terhunus tadi. Setelah mendengar ketokan pintu dari luar, Sa’id bin Zaid bertanya dari dalam rumah : "Siapa itu?"
Umar menjawab : "Ibnul-Khattab!"
Setelah Khabbab mendengar suara ‘Umar begitu keras, ia mengintai dari dalam, dan dilihatnya, bahwa kedatangan ‘Umar itu dengan membawa pedang terhunus. Maka dari itu segera ia lari menyembunyikan dirinya di dalam rumah. Sedang catatan ayat-ayat AlQur’an yang baru diajarkan tadi dengan secepatnya diambil dan disembunyikan oleh Fathimah, lalu pintu itu dibuka oleh Sa'id.
Umar lantas masuk ke dalam dengan muka merah padam sambil berkata kepada Fathimah : "Hai, orang yang memusuhi dirinya sendiri, sungguh aku sekarang telah mendengar kabar, engkau telah berganti agama, begitu juga suamimu. Betulkah engkau sekarang telah mengikut agama Muhammad?". Lalu Umar memegang janggut Sa'id dan mencekik lehernya, lantas Sa'id dibanting lalu dadanya diinjak-injak.
Oleh karena shahabat Sa'id tidak begitu kuat, tentu saja ia tak dapat melepaskan diri dari Umar.
Setelah Fathimah melihat suaminya dianiaya, ia tidak tahan lagi, lalu akan menolongnya sekuat tenaganya. Tetapi ketika ia baru mendekati Umar, kepalanya dipukul dengan keras oleh kakaknya, dan mulutnya disikut, sehingga mengeluarkan darah. Setelah mengetahui bahwa mukanya sudah berdarah, lalu Fathimah menunjukkan keberaniannya seraya berkata kepada kakaknya : "Apakah engkau akan memukuli aku, atau akan membunuhku, hai seteru Allah?"
Umar lalu diam sambil duduk di atas dada iparnya.
Fathimah lalu berkata lagi : "Hai seteru Allah! Aku dan suamiku sudah lama memeluk agama Muhamnmad. Mengapa engkau baru bertanya sekarang? Kalau engkau memang akan membunuh diriku, aku tidak akan takut sedikitpun: dan kalau engkau akan mengamukku, akupun tidak gentar dan tidak akan mundur selangkahpun. Cobalah, dekatilah aku, bunuhlah aku dan suamiku! Aku akan tetap mengikut agama Muhammad."
Setelah Umar mendengar suara adiknya dan melihat mukanya berlumuran darah yang mengalir dari atas kepalanya, ia lantas bangun melepaskan iparnya, kemudian duduk di atas sebuah kursi. Lalu termenung, dan tampak sangat menyesal atas pebuatannya yang sekejam itu dan kelihatan sangat malu kepada iparnya, serta matanya melihat ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri. Tidak berapa lama kemudian, ia melihat tulisan pada sehelai kertas yang tergantung di atas pintu. Dan ia tertarik kepada tulisan itu dan selalu memperhatikannya. Karena ia adalah seorang Quraisy yang dapat menulis dan membaca.
Lantaran tertariknya kepada tulisan itu, maka ia memperhatikannya, dan lama kelamaan hatinya tidak tahan, lalu ia bertanya kepada adiknya perempuan yang masih kesakitan itu : "Hai Fathimah! Itu tulisan Apa?" Fathimah tidak mau menjawab. Maka dari itu Umar bertanya lagi : "Hai Fathimah! Cobalah tulisan itu kau ambil sebentar, aku ingin melihatnya sebentar saja. Cobalah ambilkan!"
Fathimah menjawab dengan tegas : "Jangan ! Aku tidak sudi mengambilkannya, nanti kau robek, dan tidak akan boleh engkau memegang tulisan itu, karena engkau musuh Allah."
Berulang-ulang Umar meminta supaya diambilkan tulisan itu, tetapi Fathimah tetap tidak mau mengambilkannya. Sebab itu akhirnya Umar bersumpah : "Demi Allah! Jika aku sudah melihat dan membaca tulisan itu, dengan segera akan ku kembalikan dan tidak akan ku robek-robek Demi Allah! Aku tidak berbohong."
Mendengar sumpah Umar itu, akhirnya Fathimah mau mengambilkan tulisan itu dan memberikan kepada Umar.
Setelah Umar memegang tulisan itu ia membaca permulaannya :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
Baru saja ia membaca “Bismillah” itu, hatinya pun terasa berdebar-debar. lantaran itu tulisan itu dijatuhkan ke tanah. Kemudian tulisan itu diambilnya dan dibaca lagi. Adapun tulisan itu, selain tertulis “Bismillah“, ada tertulis beberapa ayat Al-Qur’an telah diajarkan oleh Nabi kepada para pengikutnya. Yaitu surat Thaha ayat 1-16.
Setelah ‘Umar selesai membaca ayat-ayat tersebut dan memperhatikan-nya, lantas ia mengucapkan dengan sekeras-kerasnya :
اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُهُ
Kemudian ‘lUmar berkata kepada adiknya perempuan : "Sekarang ini juga, aku minta ditunjukkan tempat Muhammad. Katakanlah kepadaku, sekarang Muhammad ada di mana, aku sekarang harus bertemu dengan Muhammad."
Pada waktu itu pintu rumah shahabat Al-Arqam tertutup, karena rumah itu sedang dipergunakan oleh Nabi untuk mengajar, sebab pada masa itu cara beliau mengajar pengikut-pengikutnya masih dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh kaum musyrikin.
Setelah Umar bin Khaththab tiba di rumah shahabat Al-Arqam, dengan membawa pedang yang masih terhunus, ia segera mengetok pintunya terus-menerus dengan sekeras-kerasnya.
Dari dalam, penjaga pintu itu bertanya : "Siapa itu?"
Umar menjawab dengan suara keras : "Ibnul Khaththab!"
Penjaga pintu itu lalu mengintai dari dalam, untuk membuktikan, betulkah yang mengetok pintu itu Umar bin Khattab. Ternyata betul bahwa yang mengetok pintu itu Umar bin Khattab dengan membawa pedang terhunus.
Lantaran itu penjaga pintu itu tidak mau membukakan pintu, karena ia mengira bahwa kedatangan Umar bin Khattab itu akan mengamuk, dan boleh jadi akan membunuh Nabi Muhammad. Maka dari itu penjaga pintu lebih dulu memberitahukan kedatangan Umar itu kepada Nabi. Pada saat itu Umar tidak sabar lagi menunggu lebih lama, dan karenanya pintu itu diketoknya lagi dengan sekeras-kerasnya.
Para shahabat yang ada di dalam rumah itu tidak ada seorangpun yang berani membukakan pintu. Karena maklumlah, bahwa mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Umar akan menjadi seorang kawan yang terkemuka bagi mereka, bahkan mereka beranggapan dan menyangka bahwa Umar bin Khaththab masih menjadi lawan yang terbesar, apalagi kedatangannya itu dengan membawa pedang terhunus. Pada saat itu para shahabat yang ada di dalam rumah shahabat Al-Arqam itu sangat mengkhawatirkan diri Nabi.
Kemudian, setelah Nabi mengetahui kedatangan Umar bin Khattab, maka beliau bersabda : "Bukakan pintu! Biarkan Umar masuk, semoga Allah menjadikannya seorang yang baik dan memberi petunjuk kepadanya."
Kemudian sahabat Hamzah (paman Nabi) berkata : "Bukakanlah pintu itu, persilahkan Umar masuk, mungkin Allah akan memberikan kebaikan kepadanya dengan mengikut seruan Muhammad, memeluk Islam dan tunduk di bawah panji-panji Kalimah Tauhid. Tetapi jika kedatangannya bukan demikian, maka akulah yang akan menghadapinya dan akulah yang akan menghabisi nyawanya."
Tetapi penjaga pintu itu masih belum mau membukakan pintu, karena dia sangat takut. Oleh sebab itu sahabat Hamzah dan sahabat Zubair lalu mendekati pintu. Kemudian barulah penjaga pintu itu berani membuka pintu, dan ketika Umar masuk, dengan segera tangan kanannya dipegang oleh Hamzah dan tangan kirinya dipegang oleh Zubair.
Dan setelah Umar bin Khattab mendekati tempat duduk Nabi, maka seketika itu juga badannya gemetar, karena takutnya melihat wajah Nabi. Kemudian beliau bersabda kepada kedua sahabat tadi : "Lepaskan Umar!" Maka oleh kedua shahabat itu Umar bin Khaththab dilepaskan dengan segera dan lalu didudukkan dihadapan Nabi. Kemudian beliau menarik pakaian Umar dengan bertanya :
مَا جَاءَ بِكَ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ
"Dengan maksud apa kedatanganmu kemari, hai Ibnul Khaththab?"
فَوَ اللهِ مَا اَرَى اَنْ تَنْتَهِيَ حَتَّى يُنَزِّلَ اللهُ بِكَ قَارِعَةً.
"Demi Allah! Aku tidak menyangka bahwa engkau akan berhenti dari perbuatanmu sehingga Allah menurunkan sesuatu yang sangat menggoncangkanmu."
Umar bin Khaththab menjawab dengan tegas :
جِئْتُ لَاُوْمِنُ بِاللهِ وَرَسُوْلــِهِ وَ بِمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللهِ.
"Aku datang kemari demi sesungguhnya aku akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada apa-apa yang telah datang dari sisi Allah."
Oleh sebab itu Nabi lalu menepuk dada Umar dengan tangan kanannya tiga kali dan bersabda :
اَسْلِمْ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ، اَللّٰهُمَّ اهْدِ قَلْبَهُ ! اَللّٰهُمَّ اهْدِ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ ! اَللّٰهُمَّ اخْرُجْ مَا فِى صَدْرِ عُمَرَ مِنْ غِلٍّ وَابـْدِلْهُ اِيـْمَانًا
"Islamlah engkau hai Umar bin Khaththab. Ya Allah, tunjukilah hati-nya. Ya Allah, tunjukilah Umar bin Khattab. Ya Allah, keluarkanlah apa-apa yang ada di dalam dada Umar dari pada perasaan benci, dan gantilah dengan iman."
Selanjutnya Nabi bersabda :
اَ لَمْ يَأْنِ لَكَ يَاعُمَرَ اَنْ تَشْهَدَ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
"Apakah belum bagimu Umar, bahwa engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu Rasul Allah?"
Lalu seketika itu juga Umar membaca syahadat di hadapan Nabi:
اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، وَاَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ.
"Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya engkau (Muhammad) adalah Rasul Allah."
Setelah Umar bin Khaththab membaca syahadat, lalu RAsulullah membaca takbir tiga kali.
اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ
“Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar !”
Kemudian sekalian kaum Muslimin yang ada di dalam rumah itu membaca takbir juga bersama-sama dengan suara sekeras-kerasnya.
4. SAYYIDINA KHALID BIN WALID RADHIALLAHU 'ANHUMA
Sebelum memeluk Islam namanya begitu tersohor sebagai Panglima perang kaum kuffar yang sangat hebat, dialah Khalid bin Walid. Dia tidak pernah sekalipun mengalami kekalahan dalam peperangan yang ia pimpin, baik sebelum masuk Islam atau setelah masuk Islam. Khalid dikenal sangat jenius meracik strategi perang hingga kemampuannya dikenal dimanapun.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke kota Mekah dalam rangkaian umrah qadha. Ikut bersama Rasulullah, al-Walid bin Walid (saudara Khalid bin Walid) yang telah lebih dahulu masuk Islam daripada Khalid.
Walid mencari-cari saudaranya, Khalid, tetapi tidak menemukannya. Ia pun menulis sepucuk surat kepada saudaranya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Amma ba'du. Sesungguhnya aku tak menemukan sesuatu yang lebih mengherankan daripada jauhnya pikiranmu dari Islam. Engkau seorang yang cerdas. Tak seorang pun yang tidak mengenal agama seperti Islam. Aku pernah ditanya suatu kali oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang dirimu. Beliau bertanya,
"Mana Khalid?"
Aku menjawab, "Semoga Allah memberinya hidayah."
Rasulullah bersabda lagi :
"Orang seperti Khalid tidak mengenai Islam? Andaikan ia gunakan kehebatan dan ketangguhannya (yang selama ini ia gunakan untuk yang lain) bersama kaum muslimin, tentu akan lebih baik baginya."
Dalam Perang Uhud tentu Khalid bin Walid telah hafal betul dengan sosok Nabi Muhammad. Selain di Perang itu ia menewaskan banyak syuhada, ia juga mulai penasaran sosok Nabi.
Khalid bin Walid menerima surat dari saudaranya. Surat itu dibacanya dengan seksama. Ia sangat gembira mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya tentang dirinya. Hal itu semakin mendorongnya untuk masuk Islam. Akhirnya Khalid mengarahkan jiwa dan nuraninya pada agama baru yang setiap hari benderanya semakin naik dan berkibar. Cahaya keyakinan pun mulai berkilau di hatinya yang suci. Ia berkata dalam hatinya, "Demi Allah, sungguh jalan inilah yang lurus. Sesungguhnya dia (Muhammad) memang benar-benar seorang rasul. Sampai kapan? Demi Allah aku harus segera menemuinya untuk mengutarakan keislamanku."
Pada malam itu Khalid bermimpi seperti berada di sebuah daerah sempit dan gersang. Tak ada tanaman dan tak ada air. Kemudian ia pergi menuju daerah yang hijau dan luas. Setelah bangun, Khalid berkata dalam hati, "Sungguh ini sebuah mimpi yang baik."
Khalid keluar dari rumahnya. Ia sudah bertekad untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mimpi yang ia alami semalam terus melekat dalam pikirannya dan seolah-olah berada di depan kedua matanya. Ia mencari seseorang yang bisa menemaninya menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Di tengah jalan ia bertemu dengan Shafwan bin Umayyah. Khalid berkata pada Shafwan, "Wahai Abu Wahb, tidakkah engkau perhatikan kondisi kita? Kita ibarat gigi geraham sementara Muhammad telah menguasai bangsa Arab dan non-Arab. Kalau kita datang menemui Muhammad lalu kita ikuti langkahnya, niscaya kemuliaan Muhammad juga kemuliaan kita."
Shafwan bin Umayyah sangat enggan menerima ajakan Khalid. Ia berkata, "Andaikan tak ada lagi yang tersisa selain diriku sendiri, sungguh aku tak akan pernah mengikutinya selama-lamanya."
Akhirnya Khalid bin Walid meninggalkan Shafwan bin Umayyah. Ia berkata dalam hati, "Orang ini, saudara dan bapaknya terbunuh di Perang Badar."
Kemudian Khalid berjumpa dengan Ikrimah bin Abu Jahal (Sebelum ia masuk Islam). Khalid berkata kepada Ikrimah seperti yang dikatakannya kepada Shafwan bin Umayyah. Jawaban yang diberikan Ikrimah juga sama dengan jawaban Shafwan bin Umayyah. Walau pada akhirnya Ikrimah juga masuk Islam, dan ikut berjuang bersama Rasulullah.
Lalu Khalid kembali ke rumahnya dan mempersiapkan kudanya. Ia mulai melangkah, Tiba-tiba ia bertemu dengan Utsman bin Thalhah yang merupakan sahabat dekatnya. Ia menyampaikan rencananya untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ternyata Utsman menerima ajakannya. Akhirnya keduanya pergi dengan tujuan yang sama. Di jalan mereka bertemu dengan Amru bin Ash. Amru berkata pada keduanya, "Marhaban."
"Marhaban bika." balas keduanya.
"Mau ke mana kalian?" tanya Amru.
"Apa yang menyebabkan engkau keluar di waktu begini?", keduanya balik bertanya.
"Kalau kalian, apa yang menyebabkan kalian keluar?"Amru balas bertanya.
"Untuk masuk Islam dan mengikuti Muhammad." jawab Khalid dan Utsman serentak.
"Itulah yang membuat aku datang ke sini." timpal Amru sambil tersenyum.
Mereka berangkat sampai tiba di Madinah. Di jalan, sebelum bertemu Rasulullah, Khalid bertemu dengan saudaranya; al-Walid. Al-Walid berkata, "Cepatlah. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengetahui kedatanganmu dan beliau sangat gembira dengan kedatanganmu. Beliau sedang menunggu kalian."
Mereka memeprcepat langkah dan segera masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Khalid lebih dulu masuk dan ia segera menyampaikan salam pada Rasulullah. Rasulullah membalas salamnya dengan wajah berseri.
Khalid segera berucap, "Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah."
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Mari ke sini!"
Ketika Khalid bin Walid sudah mendekat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Segala puji bagi Allah yang telah menunjukimu. Aku memang sudah melihat kecerdasan dalam dirimu dan aku berharap semoga kecerdasan itu membawamu pada kebaikan."
Setelah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalid berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah banyak berada pada posisi yang menentang kebenaran, maka berdoalah kepada Allah untuk mengampuniku.",
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Islam akan menghapus segala dosa yang telah berlalu."
Khalid melanjutkan, "Wahai Rasulullah, doakanlah aku!"
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Ya Allah, ampunkanlah Khalid atas segala perbuatannya yang menghalangi manusia dari jalan-Mu."
Kemudian Utsman bin Thalhah dan Amru ibnul Ash pun maju dan membaiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sejak hari itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tak pernah memberi sesuatu pun kepada para sahabatnya lebih banyak dari yang diberikannya kepada Khalid bin Walid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berpesan kepada sahabat-sahabat yang lain,
"Jangan sakiti Khalid karena sesungguhnya ia adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan pada orang-orang kafir."
Wallahu a'lam bishawab...

Senin, 02 Maret 2015

Konsep Ketuhanan dalam Islam

Konsep Ketuhanan dalam Islam
Dalam The Worldview of Islam, konsep Tuhan adalah masalah yang paling sentral. Secara sederhana, The Worldview of Islam adalah pandangan hidup berdasarkan Islam. Ajaran Islam yang komprehensif membuat setiap Muslim memiliki pandangan hidup yang khas. Karena Islam melahirkan sebuah worldview/pandangan hidup, maka seorang Muslim merespon masalah dengan cara yang unik. ‘Unik’ di sini berarti bahwa seorang Muslim berpikir dengan cara yang berbeda dengan orang kafir.
The Worldview of Islam lebih dikenal dengan istilah Islamic Worldview, tapi sebenarnya istilah ini kurang pas. Islamic Worldview secara harfiah berarti “worldview yang Islami”, seolah-olah dimungkinkan ada yang Islami di luar Islam. The Worldview of Islam artinya “worldview-nya Islam”. Ini bersifat definitif. Artinya ia cuma milik Islam.
Mengapa konsep Tuhan itu penting dalam membentuk pandangan hidup? Pertama, kita harus tahu bahwa kata “Tuhan” dipahami dengan cara yang berbeda oleh masing-masing agama. Kedua, konsep Tuhan itulah yang akan membentuk cara kita memahami tujuan hidup kita. Umat Kristiani, misalnya, ketika menyebut kata “Tuhan”, membayangkan sebuah konsep unik dalam benak mereka. “Tuhan” dalam bayangan mereka adalah subyek trinitas, mengirimkan “anaknya” untuk disalib untuk menebus dosa manusia. Konsep Tuhan dalam Islam lain lagi. Demikian pula dengan agama-agama lainnya, saling berlainan.
Beberapa filsuf Yunani kuno berpendapat bahwa tuhan itu ada dan mencipta, namun setelah mencipta, tuhan diam saja. Artinya, dalam pandangan mereka, tuhan tidak terlibat dalam kehidupan di alam semesta setelah ia menciptakannya. Oleh karena itu, dalam segala hal, mereka berfilsafat. Sebab tuhan mereka tidak membimbing dengan wahyu. Tuhan mereka hanya diam.
Ketika Nabi Ibrahim a.s menghancurkan berhala-berhala kaumnya, secara tidak langsung ia “menggugat” konsep Tuhan mereka. Mengapa tuhan-tuhan mereka terbuat dari batu, kayu, dan sebagainya? Kenapa tuhan mereka hanya bisa diam, lalu kenapa tuhan seperti itu disembah? Itukah konsep Tuhan yang benar?
Dalam Islam, ada 1 surah di juz 30 yang sangat ringkas, tapi efektif menjelaskan konsep Tuhan, yaitu Surah Al-Ikhlash: Qul huwallaahu ahad (Allah itu hanya satu). Allaahush-shamad, (Allah tempat bergantung segala sesuatu). Lam yalid wa lam yuulad, (Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan). Wa lam yaqun lahuu kufuwan ahad, (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya).”
Ayat pertama langsung memperkenalkan konsep tauhidullaah, yaitu keesaan Allah. Allah itu satu. Apanya yang satu? Dzat-Nya sudah pasti cuma satu. Dia-lah satu-satunya Dzat yang bernama Allah. Para ulama berpendapat bahwa tauhidullah jauh lebih dalam daripada sekedar menjelaskan tunggalnya Dzat Allah. Selain tunggal Dzat-Nya, Allah pun tunggal dari segi sifat dan perbuatan-Nya. Artinya, sifat Allah hanya milik Allah, dan perbuatan Allah hanya milik Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki sifat seperti Allah, dan tak ada makhluk yang mampu berbuat seperti Allah.
Lihat perbuatan Nabi Ibrahim a.s. Berhala-berhala itu sifatnya sama seperti benda mati, bahkan tak mampu berbuat apa-apa. Itukah konsep Tuhan yang benar? Maka, ayat pertama dalam Surah Al-Ikhlash telah secara jitu menjelaskan konsep tauhidullaah. Inilah konsep Tuhan yang khas milik Islam. Bukan milik yang lain.
Ayat kedua menjelaskan apa “pekerjaan” Allah. Kepada Allah-lah tempat bergantung segala sesuatu. Tidak seperti orang Yunani kuno yang percaya bahwa tuhan cuma diam, Islam percaya bahwa Allah senantiasa dalam kesibukan. Allah-lah yang membuat keputusan atas segala sesuatunya di dunia ini. Karena itu, kita meminta kepada-Nya. Kita beribadah pada-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya. Iyyaaka na’buduu wa iyyaaka nasta’iin. Di sini, kita dapat melihat perbedaan pandangan antara Islam dan kepercayaan Yunani kuno tadi. “Tuhan” yang diam versi para filsuf Yunani itu tidak bisa dimintakan pertolongan. Sebab maunya cuma diam. Dalam kepercayaan dewa-dewi ala Yunani yang lebih kuno lagi, “tuhan” malah perlu disogok dan dirayu. Kalau tidak diadakan pemujaan dan persembahan macam-macam, dewa-dewi Yunani tidak peduli pada manusia.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk berdo’a dan meminta pada Allah. Sebab semuanya bergantung pada Allah. Kalau kita menganggap bahwa prestasi kita adalah hasil kerja keras kita sendiri, maka itulah hamba Allah yang sombong. Jangankan kita, para Nabi dan Rasul saja berdo’a. Siapa yang lebih saleh daripada mereka?
Setelah menegaskan ketunggalan Allah, ayat ketiga menjelaskan bahwa Allah itu tak punya keturunan dan bukan anak siapa-siapa. Sebab, bisa jadi orang menyangka bahwa Allah itu memang satu, tapi Dia punya anak yang mewarisi kehebatannya. Jika kita katakan bahwa “Hanya ada 1 orang yang bernama X”, maka bisa jadi si X punya anak bernama si Y. Dan Y sejenis dengan X. Sebagaimana Zeus itu cuma 1, tapi anaknya banyak. Ini bukan konsep Tuhan ala Islam. Dalam kepercayaan dewa-dewi Yunani, Zeus jadi dewa terkuat setelah menggulingkan ayahnya, Kronos. Kronos pun sebelumnya telah menggulingkan ayah kandungnya sendiri.
Dengan demikian, jelaslah bahwa Allah hanya 1 dan takkan ada “pesaing” yang sejenis dengan-Nya. Tapi, kalau berhenti di sini, bisa jadi ada orang berpikir bahwa Allah hanya ada satu, tapi ada pengganti yang mirip. Sama saja seperti kita punya pisau, tapi juga punya cutter yang bisa menjalankan fungsi yang mirip dengan pisau.
Ayat terakhir menuntaskan konsep tauhidullaah. Allah hanya satu, dan tak ada yang serupa dengan-Nya. Ayat terakhir ini juga penting untuk menjelaskan dua konsep tauhidullaah, yaitu ketunggalan sifat dan perbuatan-Nya. Apa pun yang bisa kita bayangkan, itu bukanlah Allah. Karena Allah berbeda dari segalanya. Karena itu, Islam tidak mengenal penggambaran Dzat Allah. Jika umat Kristiani dan Hindu menggambarkan sosok tuhan mereka, maka Islam tidak menggambarkan sosok Allah. Allah Maha Melihat, kita pun dapat melihat. Tapi penglihatan kita berbeda dengan Allah. Tidak ada yang serupa dengan-Nya. Burung dan lalat bisa terbang, pesawat pun bisa. Tapi burung dan lalat itu berbeda dengan pesawat.
Allah ciptakan segalanya dari ketiadaan, sedangkan manusia hanya bisa menciptakan benda-benda dari bahan baku yang Allah sediakan. Sifat Allah pun berbeda dengan manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Manusia, misalnya, marah jika kepentingannya dilanggar. Allah murka bukan karena alasan yang sama, karena Allah tak butuh apa-apa dari kita. Dia tidak pernah merasa dirugikan. Jadi, kemurkaan Allah berbeda dengan kemarahan manusia. Maka, “ekspresinya” pun berbeda. Adakalanya, Allah murka pada seorang hamba yang durhaka, lantas ia malah dibiarkan hidup bergelimang kenikmatan. Semua itu hanya menambah kedurhakaannya, dan kelak ia akan disiksa di neraka. Itulah salah 1 bentuk murka Allah. Apa manusia bisa melakukan hal yang sama? Marah kepada orang lain, lantas malah menyenangkannya? Tidak!
Allah murka bukan karena merasa rugi. Allah melarang bukan karena takut. Kita melarang orang masuk ke pekarangan kita tanpa izin karena takut akan disakiti orang tak dikenal atau takut orang tersebut merampok rumah kita. Tapi Allah melarang manusia untuk memikirkan Dzat-Nya bukan karena takut. Memang manusia bisa apa?
Dengan konsep Tuhan yang demikian, kita terbebas dari materialisme. Kebenaran tidak diukur dari kenikmatan duniawi. Sebaliknya, kita justru memandang kenikmatan duniawi sebagai cobaan. Itu konsekuensi dari konsep Tuhan ala Islam.
Di cerita-cerita vampir ala Barat, banyak yang memperlihatkan konsep Tuhan seolah-olah Tuhan sedang berperang dengan Iblis. Dalam Islam, Allah tidak berperang melawan siapa-siapa. Memang siapa yang bisa memerangi Allah?
Ada seorang non-Muslim yang pernah berkata bahwa semakin banyak berdo’a, iman kita makin lemah. Inilah tandanya konsep Tuhan kita berbeda. Dalam Islam, Allah-lah yang memerintahkan manusia untuk berdo’a. Jika ada orang tidak berdo’a itu tandanya orang tersebut tak beriman. Hanya hamba yang angkuh yang tidak meminta kepada-Nya. Dengan tidak berdo’a, seolah-olah kita mampu berdiri sendiri tanpa Allah. Hal ini bertentangan dengan Surah Al-Ikhlash dan Al-Fatihah.
Non-Muslim tersebut kemudian mengatakan bahwa yang banyak berdo’a itu rewel kepada Tuhan. Konsep Tuhan-nya memang beda. Dalam Islam, Allah tidak keberatan kalau manusia banyak berdo’a. Mungkin, dalam pandangan non-Muslim tersebut, Tuhan akan jengkel dan merasa direpotkan. Dalam Islam, Allah tak pernah merasa kerepotan. Mintalah apa saja pada-Nya, Dia sanggup mengabulkannya dan senantiasa mendengarkan do’a-do’a kita.
Non-Muslim tersebut berkata lagi bahwa yang bersatu dengan Tuhan tak bicara pada-Nya. Konsep “bersatu dengan Tuhan” (wihdatul wujud) memang berbahaya. Karena merasa bersatu dengan Tuhan, lantas merasa dirinya sudah sama dengan Tuhan. Lama-lama, ia pun merasa tak perlu beribadah lagi. Padahal, manusia paling saleh yaitu Rasulullah s.a.w saja selalu berdo’a. Siapa lagi yang lebih dekat dengan Allah selain dirinya? Berdoa mengajarkan kita untuk memahami posisi kita di hadapan Allah. konsep Tuhan yang diutarakan non-Muslim tersebut memang berbeda.
Beda agama, beda konsep Tuhan-nya. Beda konsep Tuhan, tentu berbeda pula pandangan hidupnya. Biarkanlah non-Muslim tersebut dengan agamanya, itu urusan dia. Tapi seorang Muslim tidak semestinya mengikutinya. Untuk sementara cukup sampai disini artikel kali ini. Semoga kita semakin mengenal Allah, sesuai konsep Tuhan dalam ajaran Islam. Aamiin.

Pengikut