Tampilkan postingan dengan label POLITIK DAN HUKUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLITIK DAN HUKUM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2015

CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA

CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA






Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).
Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.
Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.
Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?
Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.
Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.
Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?
Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.
Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).
Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?
Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.
Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini?
Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?
Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.
Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).
Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.
Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.
Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.
Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.
Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.
Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?
Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.
Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.
Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.
Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?
Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.
Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?
Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?
Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.
Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.
Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.
Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?
Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.
Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia. [Dwi Condro Triyono, Ph.D]




Kamis, 18 Juni 2015

Inilah 18 Kelebihan dan Kekurangan Demokrasi

Inilah 18 Kelebihan dan Kekurangan Demokrasi
Demokrasi, menurut definisi, adalah sistem politik di mana kekuasaan tertinggi terletak pada rakyat yang memiliki hak untuk memilih wakil mereka.
Terdapat dua jenis demokrasi yaitu demokrasi langsung dan demokrasi perwakilan.

Dalam demokrasi langsung, rakyat mengambil bagian aktif dalam pembuatan undang-undang dan keputusan pemerintah lainnya.
Dalam demokrasi perwakilan, wakil yang dipilih oleh rakyat diberi mandat membuat undang-undang dan keputusan lain.
Berikut akan dibahas berbagai hal yang menjadi kelebihan dan kekurangan demokrasi.
Kelebihan Demokrasi
1. Melindungi kepentingan rakyat
Demokrasi merupakan sistem yang melindungi kepentingan rakyat. Kekuasaan yang sesungguhnya terletak di tangan orang-orang yang mewakili rakyat banyak.
Para wakil rakyat dipilih dan harus bertanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya. Dengan cara ini, kepentingan sosial, ekonomi dan politik rakyat menjadi lebih terjamin di bawah demokrasi.
2. Berdasarkan prinsip kesetaraan
Demokrasi didasarkan pada prinsip kesetaraan. Semua warga negara memiliki kedudukan sama di mata hukum.
Semua rakyat memiliki hak sosial, politik dan ekonomi yang sama dan negara tidak boleh membedakan warga negara atas dasar kasta, agama, jenis kelamin, atau kepemilikan.
3. Stabilitas dan tanggung jawab dalam pemerintahan
Demokrasi dikenal sebagai sistem yang stabilitas dan efisien. Pemerintahan berjalan stabil karena didasarkan pada dukungan publik.
Dalam demokrasi perwakilan, wakil rakyat mendiskusikan masalah negara secara menyeluruh dan mengambil keputusan berdasarkan aspirasi rakyat.
Di bawah sistem monarki, elit kerajaan mengambil keputusan sesuai keinginannya sendiri. Sedangkan di bawah kediktatoran, diktator tidak melibatkan rakyat sama sekali dalam pengambilan keputusan.
4. Pendidikan politik kepada rakyat
Demokrasi bisa berfungsi sebagai sekolah pendidikan politik bagi rakyat. Rakyat akan ikut terdorong untuk mengambil bagian dalam urusan negara.
Pada saat pemilihan umum, partai politik mengusulkan kebijakan dan program untuk dinilai oleh rakyat. Hal ini pada akhirnya menciptakan kesadaran politik di kalangan masyarakat.
5. Sedikit peluang revolusi
Karena demokrasi didasarkan pada kehendak publik, terdapat kemungkinan kecil terjadi pemberontakan rakyat. Para wakil dipilih oleh rakyat untuk melakukan urusan negara dengan dukungan rakyat.
Jika mereka tidak bekerja dengan baik atau tidak memenuhi harapan rakyat, para wakil bisa saja tidak dipilih lagi dalam pemilu berikutnya. Dengan cara ini, rakyat tidak perlu melakukan pemberontakan saat menginginkan perubahan.
6. Pemerintahan stabil
Demokrasi didasarkan pada kehendak rakyat sehingga penyelenggaraan negara berjalan didasarkan atas dukungan rakyat.
Oleh karena itu, demokrasi dianggap lebih stabil daripada bentuk pemerintahan lain.
7. Membantu membentuk rakyat menjadi warga negara yang baik
Keberhasilan demokrasi terletak pada bertumbuhnya warga negara yang baik.
Demokrasi menciptakan lingkungan yang tepat untuk pengembangan kepribadian dan menumbuhkan kebiasaan yang baik. Dalam demokrasi, rakyat dilatih untuk memahami hak dan kewajiban mereka.
8. Berdasarkan opini publik
Pemerintahan demokrasi didasarkan pada keinginan publik dan tidak didasarkan pada ketakutan pada penguasa.

Demokrasi berdiri di atas konsensus, bukan pada kekuasaan; dengan warga negara memiliki kesempatan mengambil bagian aktif dalam pemerintahan.
Kekurangan Demokrasi
1. Lebih menekankan pada kuantitas daripada kualitas
Demokrasi tidak didasarkan pada kualitas tetapi pada kuantitas. Partai mayoritas memiliki wewenang memegang pemerintahan.
Selain itu, orang yang tidak memiliki kecerdasan, visi dan korup bisa saja terpilih menjadi penyelenggara negara.
2. Pemerintahan oleh orang tidak kompeten
Demokrasi bisa saja dijalankan oleh orang-orang yang tidak kompeten. Dalam demokrasi, setiap warga negara diperbolehkan untuk mengambil bagian, sedangkan tidak semua orang cocok dengan peran itu.
Segerombolan manipulator yang dapat mengumpulkan suara bisa mendapatkan kekuasaan dalam demokrasi. Hasilnya, demokrasi dijalankan oleh orang bodoh dan tidak kompeten.
3. Berdasarkan kesetaraan yang tidak wajar
Konsep kesetaraan dalam demokrasi dianggap bertentangan dengan hukum alam. Alam memberi setiap individu dengan kecerdasan dan kebijaksanaan yang berbeda.
Faktanya, kemampuan tiap orang berbeda. Sebagian orang berani, lainnya pengecut. Sebagian sehat, yang lain tidak begitu sehat. Sebagian cerdas, yang lain tidak.
Kritik berpendapat bahwa akan bertentangan dengan hukum alam untuk memberikan status yang sama kepada semua orang.
4. Pemilih tidak tertarik pada pemilu
Pemilih tidak selalu menunaikan hak pilihnya sebagaimana seharusnya. Umum ditemukan tingkat partisipasi pemilih hanya berada pada kisaran angka 50 sampai 60 persen saja.
5. Menurunkan standar moral
Satu-satunya tujuan kandidat adalah memenangkan pemilihan. Mereka sering menggunakan politik uang dan praktik bawah tangan lainnya agar terpilih.
Kekuatan otot dan uang bekerja bahu-membahu untuk memastikan kemenangan seorang kandidat.
Dengan demikian, moralitas adalah korban pertama dalam pemilu. Apa yang bisa diharapkan setelah moralitas dikorbankan?
6. Demokrasi adalah pemerintahan orang kaya
Demokrasi modern pada kenyataannya adalah kapitalistik. Pemilu dilakukan dengan uang. Para calon kaya membeli suara. Pada akhirnya, rakyat mendapatkan pemerintahan plutokrasi yang berbaju demokrasi.
Pada kondisi ini, orang kaya menguasai media untuk keuntungan mereka sendiri. Kepentingan pemilik modal bisa saja mempengaruhi keputusan politik yang diambil pemerintah.
7. Penyalahgunaan waktu dan dana publik
Demokrasi bisa terjerumus pada pemborosan waktu dan sumber daya. Dibutuhkan banyak waktu dalam perumusan undang-undang. Banyak uang yang dihabiskan selama pemilu.
8. Tidak terjadi pemerintahan yang stabil
Ketika tidak ada partai yang manjadi mayoritas mutlak, pemerintahan koalisi harus dibentuk. Koalisi partai politik dengan pembagian kekuasaan hanya merupakan perkawinan semu.
Setiap kali terjadi benturan kepentingan, koalisi hancur dan pemerintahan runtuh. Dengan demikian, pemerintah stabil di bawah demokrasi bisa sulit dicapai.
9. Kediktatoran mayoritas
Demokrasi dikritik karena menjadi legitimasi kediktatoran mayoritas. Mayoritas diharuskan melindungi kepentingan minoritas tetapi dalam praktiknya tidak selalu demikian.
Mayoritas setelah mendapatkan kesuksesan saat pemilu terkadang melupakan minoritas dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan kehendak mereka sendiri.
10. Pengaruh buruk dari partai politik
Partai politik merupakan dasar demokrasi. Partai politik bertujuan merebut kekuasaan dengan cara yang sah.
Namun terkadang, anggota partai politik lebih mendahulukan kepentingan partai dibanding kepentingan negara.

source; Amazine co & Sejarah Dunia


Senin, 09 Februari 2015

Mengapa Indonesia Sangat Penting dalam Gerakan Illuminaty??

Mengapa Indonesia Sangat Penting dalam Gerakan Illuminaty??
Indonesia adalah negara dengan jumlah umat muslim terbesar di planet bumi ini, ada sekitar 199.5 juta orang Islam di Indonesia dari 234.25 juta penduduk Indonesia. Indonesia dan negara-negara Timur Tengah adalah negara yang paling duluan dipengaruhi dan dikuasai oleh sistem Illuminaty sesuai dengan jumlah mayoritas pemeluk agama yaitu :
Indonesia sebagai Negara Mayoritas MUSLIM Terbesar di Dunia.
China sebagai Negara Mayoritas BUDDHA Terbesar di Dunia.
India sebagai Negara Mayoritas HINDHU Terbesar di Dunia.
Amerika Serikat sebagai Mayoritas KRISTEN PROTESTAN Terbesar di Dunia.
Vatikan dan Italia sebagai Mayoritas KRISTEN KHATOLIK Terbesar di Dunia.
Jepang Sebagai Mayoritas Pemeluk Kepercayaan SHINTO Terbesar di Dunia.
Russia sebagai Mayoritas Pemeluk Ideologi KOMUNIS Terbesar di Dunia.
Israel Sebagai Mayoritas YAHUDI Terbesar di Dunia.
Tanggal 2 Juli 2009 lalu, Koran The New York Times mengulas sengketa organisasi Freemason Amerika, sebuah organisasi persaudaraan internasional milik Zionis-Yahudi. Pangkal sengketa itu adalah pengangkatan seorang anggota yang bukan berkulit putih (kulit hitam) sebagai petingginya. Bagi anggota Freemason lain, pengangkatan Grand Master bukan dari kulit putih dianggap keluar dari tradisi.
Orang yang paling diributkan itu adalah pemuda bernama Victor Marshall (26), seorang laki-laki pemalu anggota cadangan militer angkatan darat Amerika Serikat.

Sebelum itu, tepatnya Mei 2008, penulis ternama Harun Yahya berkirim surat – melalui stafnya – kepada Suara Hidayatullah tentang tekanan Freemason kepada tokoh anti Evolusi dengan bukunya yang cukup ternama “Atlas Penciptaan”. Menurut Harun Yahya, Freemason pusat berkirim surat ke markasnya yang berada di Turki untuk menanyakan bagaimana orang seperti Harun Yahya bebas berkeliaran. Gara-gara tekanan Freemason, imuwan Turki bernama asli Adnan Oktar ini akhirnya kembali dipenjara.
Tidak banyak yang tahu – termasuk warga Amerika Serikat (AS) sendiri– tentang adanya pemerintah bayangan di Amerika Serikat yang konon kabarnya dihuni kelompok “pemuja setan” atau ILLUMINATI. Misi besar yang dijadikan landasan kelompok ini adalah menciptakan tatanan dunia baru atau The New World Order. Sebuah misi yang sangat berbahaya. Sayang, seringkali kaum Muslim menganggapnya sebagai ilusi.
Bagaimana sebenarnya kedudukan mereka di Amerika Serikat? Sejauh mana langkah dan cara-cara mereka mengendalikan pemerintah Super Power itu?
Koresponden Suara Hidayatullah mewawancarai Jerry Duane Gray, mantan kameramen jaringan televisi CNBC Asia yang juga dikenal sebagai wartawan investigasi. Penulis yang banyak mengritik kebijakan pemerintahan Amerika Serikat ini baru-baru ini menulis buku berjudul Bayang-Bayang Gurita, yang menceritakan kiprah organisasi Freemasonry di Negeri Paman Sam. “Banyak korban dari misi the New World Order,” ujar Jerry. Apa maksudnya? Baca wawancara lengkap pria kelahiran Wiesbaden, Jerman yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini.
Dalam salah satu buku yang Anda tulis, diungkapkan tentang agenda Tatanan Dunia Baru. Apa maksudnya?
Memang, kelompok Freemasonry (terdiri dari turunan raja, pimpinan negara, sekte Yahudi Zionis) tengah merancang tatanan dunia baru atau sering mereka sebut The New World Order. Agenda tersembunyinya adalah menyiapkan Dajjal untuk merusak dunia, hingga akhirnya mereka akan menguasai dunia sepenuhnya. Sampai sekarang misi mereka terus berjalan. Saya bahkan memperkirakan misi mereka sebentar lagi tercapai. Bagian dari rencana tatanan dunia baru adalah menyebarkan virus-virus penyakit yang mematikan.
Apa indikatornya?
Banyak sekali. Di antaranya adalah penguasaan jaringan media. Enam perusahaan media milik mereka, kini telah menguasai 90 persen jaringan informasi dunia. Opini publik dunia saat ini di tangan mereka. Jadi jangan heran, jika ada penggiringan opini atau propaganda tentang Islam adalah ajaran “teroris” yang wajib diperangi.
Selain itu, mereka juga telah menguasai ekonomi dunia. Hampir semua kebutuhan umat manusia di dunia diproduksi oleh mereka. Kelompok Freemason ini telah sukses membentuk ‘pemerintah bayangan’ Amerika Serikat.
Tujuannya untuk menguasai sumur-sumur minyak di dunia dan keuangan dunia, sekalipun melalui perang.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia dan negara-negara dunia ketiga juga tidak lepas dari sasaran. Krisis ekonomi dunia gelombang kedua yang terjadi akhir tahun 2008, merupakan skenario mereka untuk menguasai dunia. Mereka sengaja menciptakan krisis ekonomi dengan harapan negara dunia ketiga tidak bisa bangkit.
Kita lihat sendiri, ketika Indonesia tengah berusaha bangkit dari keterpurukan akibat krisis ekonomi tahun 1997, sekonyong-konyong kembali dihantam badai krisis 2008. Indonesia mau bangkit dihantam lagi, mau bangkit dihantam lagi. Ini merupakan permainan mereka.
Bagi mereka, Indonesia adalah negara penting. Kelompok Freemason tidak ingin umat Islam bersatu. Itu sebabnya, di Indonesia setiap harinya ada sekitar 60 ribu intelijen suruhan mereka memecah-belah umat Islam.
Seperti apa Tatanan Dunia Baru yang direncanakan tersebut?
Mereka berkeinginan menciptakan satu pemerintahan dunia, satu pemimpin dunia, satu agama baru. Lalu membagi dunia ini menjadi sepuluh propinsi yang mematuhi segala kehendak mereka. Tatanan dunia baru menjadikan manusia di luar Yahudi menjadi kerbau-kerbau yang dicocok hidungnya, anjing-anjing suruhan, dan budak-budak yang patuh pada perintah majikan.
Soal pemerintah bayangan Amerika Serikat tak banyak diungkap?
Pusat komando pemerintah bayangan adalah Federal Emergency Management Agency (FEMA).
FEMA bukanlah institusi resmi di Amerika Serikat yang diketahui oleh umum. Institusi ini memiliki anggaran rahasia dalam jumlah miliaran dollar. Bahkan wewenang pemerintah bayangan melebihi presiden dan kongres.
Operasional pemerintah bayangan ini diperoleh dari ‘anggaran hitam’. Mereka mengendalikan perdagangan narkoba untuk meraup keuntungan yang berlimpah. Pemerintah bayangan ini dikendalikan oleh Zionis-Amerika atau kelompok Freemason. Meski Yahudi di Amerika Serikat hanya sekitar 2 persen tapi mereka menguasai 98 persen dari kekuatan yang ada di Amerika Serikat.
Apa warga Amerika Serikat tahu tentang Pemerintah Bayangan ini?
Warga Amerika Serikat itu punya karakter individualis. Mereka hanya memikirkan diri sendiri. Sekali pun FEMA telah menggurita, tapi hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Karakter masyarakat yang demikianlah yang membuat Amerika Serikat menjadi sasaran empuk bagi kaum Zionis untuk melakukan apa saja. Selain itu, pemerintah bayangan Amerika Serikat sangat rapat menjaga rahasia. Bahkan mereka tidak ragu membunuh orang yang menyebarluaskan rahasia pemerintah bayangan.
Bagaimana dengan terpilihnya Barack Obama?
Umat Islam Indonesia jangan salah menilai tentang Barack Obama. Jangan hanya melihat Obama pernah tinggal di Indonesia atau pernah makan nasi goreng di Menteng. Obama masih sama halnya dengan Bush, yakni masuk kelompok penyembah setan (Freemason). Di depan 1200 orang keturunan Yahudi sebelum terpilih, Obama pernah berjanji akan mendukung perjuangan Israel menguasai tanah Palestina. Obama akan terus melanjutkan perjuangan Bush dalam membentuk tatanan dunia baru.
Dari puluhan Presiden Amerika Serikat, hanya John F. Kennedy yang mencintai Amerika Serikat.
"Dari puluhan Presiden Amerika Serikat, hanya John F. Kennedy yang mencintai Amerika Serikat."
Kennedy sangat membela kepentingan-kepentingan masyarakat Amerika Serikat. Kennedy dianggap menghalangi rencana membentuk tatanan dunia baru. Karena itulah tahun 1963, ia tewas ditembak oleh orang-orang yang berada dalam ring satu. Mustahil Kennedy ditembak oleh masyarakat biasa, karena penjagaan terhadap Presiden AS dilakukan secara ketat dan berlapis.
Aktivitas Anda membongkar mereka tidak membahayakan diri Anda?
Tentu. Setiap saya mengisi kajian selalu ada saja intel yang hadir. Bahkan ada intel perempuan bule yang selalu hadir di acara-acara saya. Pernah suatu ketika, selepas mengisi acara, intel itu menyodorkan selembar surat yang berisi ajakan untuk bertemu dan membicarakan bisnis di sebuah kamar hotel bintang lima di Jakarta. Saya tidak memenuhi undangan itu. (Ibnu Syafa’at/ Suara Hidayatullah/ AGUSTUS 2009).

Pengikut